Rabu, 15 Agu 2018

Ulasan Profil Praktisi, Charles Natigor Silalahi, S.H., M.H.

Ketua DPC Peradi Medan, Mengulas Dari Young Lawyer Sampai Akreditasi OBH

HLR Minggu, 10 Juni 2018 08:21 WIB
Larasonline.com

Kolase Photo. Gedung Peradi Medan, selesai dibangun dimasa Dewan Pimpinan Cabang Peradi Medan dipimpin Charles Natigor Silalahi, S.H., M.H.. Pengurus DPC Peradi Medan berphoto bersama di depan Gedung Peradi Medan (kanan atas), Charles Natigor Silalahi, S.H., M.H., (Kanan bawah) Ketua Dewan Pimpinan Cabang Peradi Medan periode 2017-2022. Sebelumnya sudah menjabat Ketua DPC Peradi Medan periode pertama 2013-2017.

Charles Natigor Silalahi, S.H., M.H., saat ini berusia 54 tahun, selama 23 tahun atau hampir setengah masa hidupnya mengabdi untuk profesi advokat. Dilantik menjadi advokat pada tahun 1996. Sarjana Hukum dari Universitas Sumatera Utara lulusan tahun 1992 ini awalnya berkeinginan menjadi notaris. Namun panggilan hati untuk penegakan hukum membuatnya memilih profesi Advokat.

Menjabat Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Medan untuk periode kedua tahun 2017 sampai dengan 2022. Jabatan Ketua DPC Peradi Medan periode pertama mulai diembannya tahun 2013 sampai dengan 2017. Sebelum menjabat Ketua DPC Peradi Medan, Charles sudah mengabdi di Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) Medan. Karir organisasinya merintis dari pengurus biasa dimulai pada tahun 1995 sampai menjabat Ketua DPC AAI Medan periode 2009 - 2014.

Menurut Charles Silalahi, demikian kerap disapa, profesi advokat sangat dinamis. Advokat harus mengikuti perkembangan hukum. "Hukum adalah seni, karenanya tidak ada seseorang yang bisa disebut pintar dalam hukum. Fakta bergantung sudut pandang, norma hukum tergantung penafsiran", dijelaskan Charles.

"Ketika hukumnya sudah dipertimbangkan dengan baik (oleh Majelis Hakim dalam uraian pertimbangan hukum putusan), kalah pun kita puas, dan legowo" urai Charles. Walaupun menurut Charles masih tersedia upaya hukum banding, kasasi, Peninjauan Kembali dan verzet (perlawanan). Advokat harus mengikuti aturan hukum acara ini bila masih keberatan terhadap putusan.

Ketika ditanyakan ada yang memilih menjadi Advokat motivasinya supaya bisa cepat kaya raya? Charles menjelaskan bahwa "Kaya itu penting tapi bukan segala-galanya. Setiap orang ingin kaya raya. Saya tetap mendampingi proses hukum sampai saat ini tidak melihat nilai kasusnya. Advokat itu panggilan hati untuk penegakan hukum bukan karena pekerjaan. Jadi tidak semata-mata untuk mengumpulkan uang. Bila motivasinya uang sebaiknya jadi pengusaha bukan advokat".


Selanjutnya Larasonline.com menggali pemikiran Charles Natigor Silalahi, SH, MH mengenai Persatuan Advokat, Potensi Advokat Muda dan Isu-isu hukum aktual melalui tanya jawab yang disajikan berikut. Wawancara dilakukan di Medan, tanggal 07 Juni 2018 pukul 20.00. Larasonline.com menyampaikan (Pertanyaan) dan Charles Silalahi menguraikan (Jawaban). Selengkapnya sebagai berikut:

Persatuan Advokat dan Potensi Advokat Muda

(Pertanyaan) Faktanya advokat muda jumlahnya banyak, energinya besar dan biasanya belum terakomodasi dalam struktur organisasi advokat (OA). Bagaimana sebaiknya OA mengelola potensi dari advokat muda?



(Jawaban) "Pengelolaan Advokat muda cukup dilakukan dengan memasukkannya ke dalam struktur pengurus mulai dari tingkat nasional sampai kabupaten/kota. DPC Peradi Medan sudah melakukannya. Untuk kepengurusan DPC Peradi Medan periode 2017 - 2022, dari seluruh pengurus 70% diisi oleh advokat muda. Advokat muda juga harus dilibatkan dalam Pusat Bantuan Hukum (PBH). Selain itu Advokat Muda juga dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan di DPC melalui keterlibatan dalam kepanitiaan dan diikut sertakan sebagai peserta"

(Pertanyaan) Bagaimana menurut anda pengelolaan advokat muda melalui pembentukan Young Lawyer Comitte (YLC) oleh DPN Peradi?

(Jawaban) "Pembentukan YLC (akan mengakibatkan terjadinya) kekaburan dan tumpang tindih dengan struktur organisasi Dewan Pimpinan Cabang. Sebelum Young Lawyer Comiite dibentuk (untuk mengelola potensi advokat muda), DPC Medan sudah memikirkan (potensi advokat muda) ini. Misalnya DPC Medan sudah mengakomodasi advokat muda, karena salah satu tugas Ketua DPC mempersiapkan regenerasi. 70% pengurus DPC Medan adalah advokat Muda. Bagi saya advokat itu sama dan sederajat. Advokat adalah satu sehingga tidak perlu disekat- sekat (atas dasar umur) terlebih karena ada kepentingan. Sekat-sekat akan mengakibatkan perpecahan. Keberadaan Young Lawyer Comitte lebih besar potensi memecah advokat daripada manfaatnya untuk mendorong persatuan advokat."

(Pertanyaan) Saat ini ada beberapa Organisasi Advokat selain DPN Peradi yang dipimpin Fauzi Yusuf Hasibuan. Bagaimana menurut anda arah OA kedepannya dengan munculnya YLC?

(Jawaban) "Organisasi advokat harus bersatu. Single Bar itu semangat arah perjuangan Peradi. Anggota DPC Peradi Medan harus yakin dengan semangat persatuan advokat dan tidak boleh mempertanyakannya lagi. Multibar menurunkan wibawa Advokat. Penghargaan kepada Advokat turun. Siapa yang akan mengawasi advokat. Bila ada advokat yang kena sanksi dari satu organisasi akan pindah ke organisasi advokat yang lain. Akhirnya masyarakat yang menjadi korban."

"Bila sepakat Advokat adalah bagian dari catur wangsa penegak hukum, yang sejajar dengan Penyidik Kepolisian, Penuntut Umum Kejaksaan, dan Hakim Badan Peradilan. Maka OA harus bersatu. Kejaksaan dipimpin oleh satu orang Kepala Kejaksaan. Pengadilan dipimpin oleh seorang Ketua Pengadilan. Kepolisian dipimpin oleh seorang Kepala kepolisian. Sementara itu Advokat tidak ada satu pemimpinnya (karena multibar). Perpecahan di OA (derajatnya sama dan) bisa dibandingkan dengan membayangkan perpecaahan bila terjadi di institusi penegak hukum selain advokat, misalnya Kepala Kejaksaan ada lima. Masyarakat akan kebingungan."

"YLC ini cenderung kepada perpecahan yang akan muncul dari dalam Peradi. YLC bisa mengarah kepada bibit perpecahan baru karena akan membentuk struktur baru diluar sturuktur DPC Peradi yang sudah ada. Pembentukan struktur baru cenderung mubazir karena kegiatan YLC akan sama dengan kegiatan DPC. Apalagi nanti bila pembiayaan YLC menjadi beban DPC."



"Dalam konteks persatuan advokat, sebaiknya YLC distop bila tidak berkontribusi dalam arah perjuangan persatuan advokat."

(Pertanyaan) Kelihatannya perpecahan OA semakin melebar. Supaya menjadi single bar apa saran anda?

(Jawaban) "Peradi harus membangun Gedung Peradi Nasional. Dengan adanya Gedung Peradi Nasional maka 90% perpecahan akan selesai. Selanjutnya setelah adanya Gedung Peradi Nasional, maka dilakukan rekonsiliasi kepada Organisasi Advokat yang lain."

(Pertanyaan) Apa kelebihan kalau seandainya Peradi punya gedung sendiri?

(Jawaban) Gedung Peradi itu simbol persatuan, simbol kecintaan, simbol kesetiaan pada Peradi. Gedung ini akan tetap ada. Sampai kapanpun tetap akan ada. Misalnya seperti Gedung Peradi Medan berhasil dibangun dengan gotong royong dari seluruh advokat Peradi di Kota Medan. Generasi Advokat di Medan selanjutnya akan tetap memilikinya. Nilai (dalam hal) ini yang tidak terhingga. Untuk seluruh Indonesia baru DPC Medan yang punyai Gedung Peradi Cabang. DPN ada memiliki sebagian dari Lantai 11 di sebuah gedung, belum punya gedung tersendiri.

(Pertanyaan) Apakah Single Bar bisa diwujudkan oleh Advokat sendiri secara mandiri atau butuh bantuan penegak hukum lainnya atau butuh bantuan dari Pemerintah atau dari Dewan Perwakilan Rakyat?

(Jawaban) Advokat bisa bersatu dengan usaha advokat sendiri. Marilah kita bersatu. Secara nasional bangunlah Gedung Peradi Nasional layaknya seperti gedung Mahkamah Agung. Bukan membangun perpecahan baru. GPN diharapkan akan menjadi kiblat Advokat.

(Pertanyaan) Kendala apa sehingga sampai saat ini GPN tidak terwujud? Apakah kendalanya dana?

(Jawaban) Advokat tidak mengalami kendala keuangan untuk membangun GPN. Misalnya ketika membangun Gedung Peradi Medan Advokat juga tidak boleh mendapat bantuan dari keuangan pemerintah untuk bangun GPN.

(Pertanyaan) Apakah ada niat untuk perbaiki peradi?

(Jawaban) Perbaikan peradi tanggung jawab bersama. Ketua Umum yang harus mempersatukan Organisasi Advokat. Lebih baik satu singa memimpin seribu kambing dari pada satu kambing memimpin seribu singa. Ada banyak figur yang mampu dan mau memimpin Peradi. Yang penting diingat jangan ada pihak yang merasa Peradi ini milik nya. Misalnya Gedung Peradi Medan bukan milik Charles Silalahi tetapi milik bersama advokat Peradi Medan.



(Pertanyaan) Ada anggapan di masyarakat Peradi terlalu elitis, arahnya menjadi penyedia jasa hukum untuk orang kaya dan perusahaan?

(Jawaban) Peradi punya Pusat Bantuan Hukum (PBH). PBH menangani banyak kasus. Terutama isu-isu yang menarik. PBH menjadi cara Peradi untuk mendekatkan diri kepada masyarakat.

(Pertanyaan) Saat ini ada akreditasi Organisasi Bantuan Hukum. Apakah PBH Peradi Medan akan mengikuti akreditasi?

(Jawaban) PBH Peradi Medan akan ikut mendaftar akreditasi. Saat ini sedang dipersiapkan syarat-syaratnya. Sampai saat ini belum diketahui penyebabnya sehingga PBH Peradi belum terakreditasi, apakah ada kendala di pusat atau daerah. Namun untuk PBH Peradi Medan sedang dirintis kembali untuk melengkapi persyaratannya.

Isu-isu Hukum Aktual

(Pertanyaan) MA kabulkan uji materil Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI No. 1 Tahun 2018 tentang Paralegal. Pemohonnya beberapa orang advokat yang dipimpin oleh Bireven Aruan, S.H., M.H., Bagaimana pendapatnya mengenai ini?

(Jawaban) "Peradi bangga dengan dikabulkan uji materil Permenkumham Paralegal. Silahkan setiap pihak bertindak anarkhis dalam negara hukum. Maka advokat yang independen dan mandiri akan muncul kedepan untuk menegakkan hukum."

(Pertanyaan) Permenkumham Paralegal dibentuk tujuannya baik. Untuk mengatasi kesenjangan karena advokat terpusat di Ibukota Provinsi sedangkan masyarakat yang membutuhkan bantuan hukum sudah tersebar merata. Sebaiknya bagaimana pengaturan paralegal?

(Jawaban) "Pengurusan permasalahan hukum tidak sesederhana itu. Sebaiknya hanya advokat lah yang boleh melakukan pembelaan. Tidak ada yang bisa diharapkan dari paralegal bila pendidikannya tidak terjamin. Advokat yang sudah ada lah yang sebaiknya diberdayakan".



(Pertanyaan) Anggaran Bantuan Hukum Gratis untuk setiap kasusnya hanya Rp. 3.000.000,- (untuk tingkat persidangan). Sepertinya karena hal ini hanya sedikit advokat yang mau melakukan pembelaan dalam program bantuan hukum gratis?

(Jawaban) "Saya rasa setiap advokat akan bersedia membela perkara bankum gratis. Advokat bukan hanya bekerja untuk mencari uang, tetapi lebih kepada (memperjuangkan) rasa keadilan dan rasa kebenaran. Advokat untuk menegakkan hukum. Bukan untuk mencari uang".

(Pertanyaan) Bagaimana konsern Peradi terhadap UU Bantuan Hukum?

(Jawaban) "PBH Peradi harusnya konsern terhadap UU Bantuan Hukum. PBH merupakan organ nya DPN Peradi. Sebaiknya dicarikan cara supaya PBH Peradi bisa terakreditasi. Lebih baik DPN Peradi konsern terhadap Pusat Bantuan Hukum (PBH) dari pada YLC".

(Pertanyaan) Bagaimana menurut anda proses penegakan hukum saat ini?

(Jawaban) "Pengadilan merupakan due process of law. Setiap organ penegak hukum mempunyai kewenangan masing-masing. Silahkan menjalankan tugas dan fungsi sesuai kewenangannya. Advokat yang akan berperan menyeimbangkan bila ada ketimpangan dalam penegakan hukum. Misalnya seperti kasus yang terjadi di Pengadilan Negeri Medan. Seorang anak diajukan dalam sidang untuk adili dalam Peradilan Pidana Umum/Dewasa. Penasihat Hukum si anak (dari Lembaga Bantuan Hukum Trisila Sumatera Utara) mengajukan eksepsi kompetensi absolut dan dikabulkan Majelis Hakim. (Dalam hal ini) bila terjadi anarkhis dalam penegakan hukum, maka advokat yang mandiri dan independen akan muncul untuk menegakkan kembali hukum. Permasalahannya Advokat tidak menyadari kekuatannya".

"Persidangan elektronik sudah bagus dan agar segera dilaksanakan. Namun Mahkamah Agung perlu memikirkan bila terjadi kegagalan sistem elektronik. Mahkamah Agung harus mempersiapkan back up dari sistem yang sudah ada. Misalnya jika terjadi kegagalan penyampaian dokumen kepada para pihak."

T#gs Advokat MudaCharles SilalahiDPC Peradi MedanGedung Peradi MedanYoung Lawyer Comitte
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments