Rabu, 14 Nov 2018
  • Home
  • Berita
  • Umum
  • Pengobatan Kecanduan Narkoba, Ketahui 4 Sebab Kecanduan

Pengobatan Kecanduan Narkoba, Ketahui 4 Sebab Kecanduan

Betty Maria Rabu, 22 Agustus 2018 17:23 WIB
Larasonline.com

Photo: dr. Azhar Jaya, SKM, MARS, Direktur Utama RSKO Jakarta (kiri) dan

dr. Gerald Mario Semen, SpKJ, Direktur Medik dan Keperawatan RSKO Jakarta (kanan)

Jakarta.


Terapi bagi pasien narkoba baik pasien hukuman maupun pasien reguler dilakukan untuk menyelamatkan pasien narkoba dari ketergantungan zat-zat adiktif. Bagaimana metode pengobatan bagi pasien narkoba dan jenis narkoba yang paling berbahaya. Dr. Azhar Jaya, SKM, MARS, Direktur Utama RSKO Jakarta dan dr. Gerald Mario Semen, SpKJ, Direktur Medik dan Keperawatan memberikan penjelasan.


Dr. Gerald Mario Semen, SpKJ yang merupakan Direktur Medik dan Keperawatan di RSKO Jakarta (15/08/2018) memaparkan tentang metode pengobatan yang digunakan bagi pengguna narkoba.


Secara umum RSKO Jakarta menyebutnya rehabilitasi terintegrasi. Ia menjelaskan semua Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kompetensi dalam bidang rehabilitasi itu terlibat bersama-sama dan tidak dipisah-pisahkan, begitu pasien masuk semua sudah dilayani. Pada saat calon pasien dibawa ke RSKO biasanya dalam kondisi intoksikasi "lagi pakai" narkoba jadi tim medis melakukan detoksifikasi.


Proses detoksifikasi ini biasanya sekitar 2 (dua) minggu untuk mengeluarkan semua napza (narkoba) yang ada di dalam tubuh. Jika pasien sudah bersih akan dilakukan pengecekan laboratorium dan dilihat hasilnya maupun gejala klinisnya.


Kemudian tim medis melakukan rehabilitasi. Rehabilitasi ini, pertama tim medis memilah yang memiliki komplikasi fisik maupun komplikasi jiwa akan dipisahkan. Jika pasien ternyata memiliki komplikasi fisik, pasien akan ditempatkan di ruang spesial program.Apabila tidak ada komplikasi, pasien akan dimasukkan ke rehabilitasi umum.


Dr. Gerald mengungkapkan bahwa pelayanan yang diberikan RSKO Jakarta terhadap semua pasien adalah sama walaupun dipisahkan ruangan. Ada terapi CBT antara Dokter dengan pasiennya, ada terapi keluarga kalau memang dalam evaluasi ini tim medis menilai bahwa ada masalah antara pasien dengan keluarga kemudian pasien narkoba mendapat terapi keagamaan.


Pasien narkoba juga mendapat yang namanya terapi "community". Menurutnya, kehidupan pasien narkoba dilatih seperti dulu sebelum pasien tersebut menggunakan narkoba.


Ada terapi aktivitas kelompok yaitu para pasien narkoba dikumpulkan, mungkin beberapa yang punya pola penggunaan yang sama. Kemudian pasien narkoba dilatih untuk mengembangkan bakat. Ia menjelaskan bahwa RSKO Jakarta memiliki terapi musik yang dilengkapi bermacam-macam alat musik. Ada terapi seni, ada yang melukis dan lain-lain. Menurutnya semua hal tersebut dilakukan untuk mengubah mine side si pasien dari "cara yang senang" mempergunakan napza (narkoba) tapi sekarang "cara yang senang" melakukan aktivitas.


Pasien juga dilatih belajar untuk mandiri. Kegiatan positif yang dapat dilakukan pasien narkoba misalnya: menyapu lantai, mencuci baju sendiri, mencuci piring sendiri, menyiapkan makanan, maupun menyiapkan tempat tidur.


"Sehingga kita harapkan nanti setelah 3 (tiga) bulan atau 6 (bulan) pasien ini akan keluar dari rumah sakit ini dengan pola pikir yang baru dengan kehidupan yang baru, dengan spirit (jiwa) yang baru", ditambahkannya lebih lanjut.


Metode Penyembuhan Pecandu Sabu, Heroin, dan Narkoba Jenis Lainnya


Menurut dr. Gerald, pada prinsipnya adiksi itu hampir sama. Cuma beda side-nya saja. Kalau beda side itu berbeda pada komplikasinya, tapi apa yang dia lakukan di rumah, di lingkungan sama. Ada konflik di dalam rumah tangga, pola pergaulannya yang keliru, itu yang tim medis benerin.


Penyebab Adiksi dan Saran Bagi Ex-Pecandu Narkoba


Dr. Gerald memaparkan setidaknya ada 4 (empat) alasan seseorang menggunakan narkoba, antara lain: Pertama, Orang adiksi itu (yang ketergantungan narkoba) akibat salah pergaulan. Kedua, tempatnya salah. Ketiga, orangnya salah. Keempat, suasana dan aktivitas-aktivitas tertentu.


Menurutnya, jika seseorang ingin free (bebas) seumur hidup dari ketergantungan narkoba, ex-pasien narkoba harus mengubah pergaulannya. Pasien nanti bisa mengidentifikasi, tim medis akan membantu para pasien narkoba untuk mengidentifikasi misalnya tempat-tempat mana yang beresiko untuk mereka.


"Kita harapkan nanti pada waktu dia akan keluar dari sini dia sudah punya komitmen, dia tidak akan datang lagi ke diskotik, gak akan datang lagi ketempat dia dulu nyuntik ini, dia beli putaw-nya disini", dijelaskannya.


Kedua, Pasien dilatih mengindentifikasi tempat. Kemudian pasien mengidentifikasi faktor beresiko kedua adalah orang, misalnya "siapa-siapa sih yang membuat saya pakai (narkotika), siapa-siapa yang membuat saya jatuh, jadi bandarnya, temannya mungkin, saudaranya mungkin, bisa saja nanti dia berkomitmen gak akan ketemu teman-teman yang ini. Saya akan cari lingkungan yang baru", ditambahkannya.


Ketiga adalah situasi. Ia mengibaratkan, "Kadang-kadang ada orang kalau lagi berantem sama pacar bikin pakai, kita bantu dia untuk memperbaiki suasana perasaannya agar jangan gampang baper gitu sehingga kalau baper mungkin dia kepikiran buat pakai (narkoba) lagi."


Contoh lainnya situasi, misalnya pada hari Senin, rutinitas seseorang padat, sibuk bekerja dari pagi hingga sore atau malam bisa jadi alasan bagi seseorang untuk mengonsumsi narkoba. Tim medis akan membantu pasien narkoba menemukan situasi yang menyenangkan.


Hal-hal seperti itu yang tim medis bantu identifikasi. Kemudian pasien narkoba membuat komitmen sebelum ia pulang agar menghindari tempat, menghindari orang, menghindari situasi agar pasien tidak terpapar (menggunakan narkoba) lagi. Karena kalau ex-pasien narkoba terpapar lagi, ia akan jatuh (kecanduan) lagi.


"Mungkin paling simpel saya ingin katakan begini. Pakai narkoba itu ibarat orang pacaran sewaktu-waktu mungkin putus eh sepuluh tahun kemudian dia ketemu mantan pacar, ingat memori masa lalu mungkin bisa selingkuh. Nah supaya gak selingkuh, jangan ketemu lagi orang yang punya kenangan-kenangan masa lalu. Begitu juga jadi yang harus dia hindari tadi supaya dia tidak jatuh lagi, tempat, orang, suasana dan aktivitas-aktivitas tertentu", jelasnya.


Ciri-ciri Umum Pecandu Napza atau Narkoba


Dr. Gerald menerangkan pada prinsip penggunaan narkoba itu, ada yang berubah dalam hidup pecandu narkoba baik dalam perilaku, maupun produktivitas.


Pertama perubahan perilaku, orang yang biasanya tiap hari ke kantor, namun sudah seminggu sering datang terlambat. Kedua, orang yang biasanya suasana perasaannya bagus tetapi sekarang marah-marah atau mungkin murung. Jika menemukan ada yang salah dari orang tersebut dari perilaku dan produktivitasnya dan perubahan-perubahan yang lain seperti perubahan fisik, orang dulu gemuk menjadi kurus atau mungkin dulu kulitnya bersih, sekarang ditemukan tanda-tanda luka-luka bekas suntikan, ia mengatakan bahwa kita harus berpikir.


Temuan mengenai hal yang tidak biasa atau janggal pada kehidupan seseorang yang disangka pecandu atau pengguna narkoba, menurutnya pikiran itu harus ditindak lanjuti dengan cara membawa ke ahli agar dapat dilakukan pemeriksaan penunjang. Ia menilai pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan.


"Ahlinya di RSKO kita punya banyak dokter spesialis, kita punya laboratorium yang sangat lengkap. Dari tes hanya pakai stik, sampai kita mengurai pakai gas yang namanya GCMS. Dari situ baru kita bisa menemukan kemungkinan orang ini memakai. Di perubahan fisik, perubahan perilaku, perubahan produktivitas itu ditimbulkan oleh perilaku pengguna", ungkapnya.


Bahaya Penggunaan Narkoba


Dr. Gerald menganalogkan kerusakan tubuh seorang pecandu atau pemakai narkoba dengan mobil. Kalau sewaktu-waktu mobil terendam banjir biarpun mobilnya sudah dikuras mesin, dikuras oli, sudah turun mesin, bersih, belum tentu mobilnya sama.


"Napza (narkoba) ini nyampe nya di otak. Jadi otak itu kalau terpapar napza pasti akan menimbulkan kerusakan ditingkat sel, ditingkat organnya. Akibatnya, sewaktu-waktu orang tidak pakai napza bukan berarti dia akan sama seperti dulu, nggak, otaknya berubah, nanti banyak komplikasi-komplikasi kejiwaan yang akan dialami oleh pasien. Itu dari segi otaknya", jelasnya.


Ia juga mengungkapkan komplikasi lain yang dapat terjadi akibat narkoba seperti merusak paru-paru, misalnya ganja. Ada juga yang merusak organ-organ vital misalnya hati pada pengguna alkohol. Kemudian juga dampak buruknya akibat cara penggunaan.

Ada narkoba yang disuntik, penggunaan jarum suntik yang tidak teratur itu akan menyebabkan banyak komplikasi, HIV, Hepatitis A, Hepatitis B, radang jantung, radang otak, dan banyak pecandu narkoba yang kemudian over dosis juga menyebabkan kematian.


Heroin Zat Adiktif Murni Yang Paling Berbahaya dan Tren NPS


Dr. Azhar, Direktur Utama RSKO Jakarta menyampaikan, saat ini narkoba yang paling berbahaya secara murni masih heroin. Namun ke depan, ditemukan makin tren zat-zat yang kimiawinya dicampur berbagai bahan akhirnya timbul jenis narkoba yang baru. Obat-obatan (narkoba) yang baru yang efeknya lebih cepat on, lebih lama, tapi juga daya dahsyatnya luar biasa menghancurkan tubuh. Dunia medis menurutnya juga bingung dengan perkembangan tren ini.


Dr. Gerald Mario Semen, SpKJ, Direktur Medik dan Keperawatan RSKO Jakarta menambahkan untuk saat ini jenis zat adiktif yang paling berbahaya kira-kira heroin. Pertama, karena menyebabkan banyak penyakit komplikasinya. Kedua, bisa menyebabkan mati lebih cepat.


"Kalau dia suntik over dosis, bisa setengah jamnya bisa lewat (meninggal). Namun yang tren kedepan yang disebut New Psychoactive Substances (NPS). Jadi zat-zat itu dibuat di pabrik bahan kimianya macem-macem dan itu paling berat sekarang, karena bisa dalam jangka waktu seminggu itu, penggunanya jadi "gangguan jiwa berat". Makanya kalau kita nonton video-videonya ada yang benturin kepala di tembok, ada yang lari-lari di jalanan sampai ketabrak karena otaknya sudah rusak berat", terang dr. Gerald lebih lanjut.


Masih menurut dr. Gerald, RSKO Jakarta memiliki laboratorium yang termaju di Indonesia. Kalau di tempat rehab lain mungkin hanya memiliki alat berupa stik, berbeda dengan RSKO Jakarta. Alat pengecekan bisa tahu sampai zatnya, apa yang dipakai. Ia mengungkapkan bahwa memang alatnya mahal. " Itu sampai di rambut kita bisa tahu misalnya dia pemakai. Cek, ambil rambutnya kita bisa tahu", imbuhnya.


Menyarankan Pemanfaatan IPWL Bagi Pasien Narkoba Kurang Mampu


Rsko Jakarta sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Wajib Lapor dan Rehabilitasi Medis Bagi Pecandu, Penyalaguna, dan Korban Penyalahgunaan Narkotika, merupakan salah satu institusi medis yang menjalankan program IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor). IPWL adalah program pemerintah bagi pecandu atau pengguna narkoba yang merupakan warga negara yang kurang mampu agar bisa mendapat perawatan medis.


"Di seluruh Indonesia ada sekitar 530-an. Dari Papua sampai Sabang ada. Dari Miyanga, sampe Rote ada. Tapi rujukan paling tertingginya disini. Kenapa kalau di tempat lain, mungkin cuma sekedar itu tadi, cuma terapi. Kalau kitakan (RSKO) misalnya pengguna napza (narkoba) dengan tadi ada komplikasi hepatitis. Itu rehab lainnya gak bisa semampu kita, " tutup dr. Gerald.

T#gs Azhar JayaGerald Mario SemenNarkobapecanduRSKO CibuburRehabilitasi Medis
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments