Kamis, 13 Des 2018

Sisi Lain Pembelaan

Handphone, Sebungkus Rokok Dan THR

Franditya Utomo Senin, 16 Juli 2018 19:06 WIB
Larasonline.com

Ilustrasi: Sisi Lain Pembelaan.

Jakarta.


"Pak, bisa minta tolong pinjam hand phone buat telepon istri?" pintanya dengan nada memelas. Lelaki itu nampak gelisah karena seharian belum memberikan kabar kepada keluarga tentang proses sidang yang hendak dijalaninya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.


Akhirnya, salah seorang pengacara yang mendampingi kasusnya meminjamkan telepon genggam. "Jangan lama-lama yah," tegas Sang Advokat. Lelaki itu pun tergopoh-gopoh menerima telepon genggam milik penasihat hukumnya untuk menghubungi istri dan keluarga di rumah.


"Bu, ini Bapak Bu ..."

Lelaki itu bukan satu-satunya klien yang pernah meminjam telepon genggam. Sebelumnya, ada yang meminjam handphone dan menggunakannya cukup lama, sehingga menghabiskan pulsa. Mungkin selama masa tahanan, mereka tak sering dijenguk atau jarang berkomunikasi dengan keluarga. Wajar jika saat bertemu dengan sosok penasihat hukum pro bono/prodeo di masa tunggu persidangan di pengadilan, mereka memanfaatkan peluang yang ada untuk sekadar menyapa sanak saudara di rumah.

Ruang tahanan mungkin telah membatasi mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari, misalnya merokok. Bagi seorang perokok, sehari tak menghisap sebatang rokok rasanya tentu sangat menyiksa. Tak jarang saat menjelang masa sidang, para ahli hisap yang telah lama tak menghirup aroma tembakau secara spontan meminta rokok kepada orang disekitarnya. Tak terkecuali para penasihat hukum mereka sendiri.


Ibarat pepatah "tak ada rotan akar pun jadi", para ahli hisap itu mulai tak kuat menahan rindu menghirup harumnya tembakau, dan memberanikan diri meminta uang kepada para penasihat hukum. Mereka mungkin akan menggunakan uang untuk membeli rokok saat kembali ke hotel prodeo. Namun nampaknya Dewi Fortuna masih belum berpihak, para penasihat hukum adalah orang-orang yang bergaya hidup sehat, bebas asap rokok. Akhirnya rokok tak terhisap, uang pun lepas dari genggaman.


Spontanitas klien yang hendak menjalani proses sidang kian tak terbendung saat jadwal sidang bergulir hingga menjelang perayaan hari besar agama. Sehari-hari mereka adalah masyarakat miskin yang biasa mendapatkan uluran tangan, sedekah saat perayaan hari besar agama. Tanpa jengah mereka meminta uang Tunjangan Hari Raya (THR) kepada orang yang biasa mendampingi kasusnya. Meski gagal, setidaknya mereka telah mencoba.


Istri klien pun tak mau kalah, ikut-ikutan mencoba. Karena suaminya adalah tulang punggung keluarga, satu-satunya pencari nafkah, maka selama di dalam tahanan anak-istripun turut berpuasa. Sang istri mencoba peruntungan, melamar pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di kantor LBH. Bahkan tak jarang setelah putusan hakim membebaskan klien dari dakwaan Jaksa Penuntut Umum, advokat pro bono masih memberikan bantuan.

Tahanan adalah orang yang dirampas kebebasannya sebagai akibat dari praktik penegakan hukum. Tentu tak ada orang di muka bumi ini yang mau dirampas kebebasannya. Namun konsekuensi menjadi anggota masyarakat yang hidup di sebuah negara yang menerapkan sistem hukum secara nasional adalah selalu dianggap mengetahui norma-norma hukum yang berlaku. Sehingga tak ada alasan bagi warga negara untuk menolak penegakan hukum dengan alasan "Saya tidak tahu ada aturan seperti itu".


Profesi advokat sebagai penasihat hukum dalam pendampingan kasus-kasus rakyat menjadi sangat penting, memastikan setiap warga negara, bahkan setiap individu tidak dilanggar haknya dalam praktik penegakan hukum. Lebih khusus jika individu tersebut adalah golongan masyarakat miskin, maka sesuai perintah Undang-undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, masyarakat miskin mendapatkan bantuan hukum secara cuma-cuma. Pun demikian dengan para advokat yang memberikan bantuan hukum melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) atau organisasi kemasyarakatan, tidak diperkenankan memungut biaya terhadap kliennya.


Masalahnya, jika ada orang miskin yang mendapatkan bantuan hukum dari pengacara, kerap kali orang-orang itu menganggap pihak yang bersedia membantu kasusnya adalah golongan kaya yang tak butuh uang. Persepsi itu nampaknya diekspresikan melalui interaksi spontan antara lawyer dengan klien yang cukup berkesan, mungkin juga haru. Jika bantuan hukum saja diberikan secara cuma-cuma alias gratis, apalah artinya kalau sekadar meminjam telepon genggam, meminta rokok atau THR? Kecil itu.

T#gs Franditya UtomoHotel ProdeoLiburanSisi Lain Pembelaan
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments