Rabu, 14 Nov 2018
  • Home
  • Berita
  • Umum
  • Direktur RSKO Jakarta: Pecandu Harus Segera Diobati

Direktur RSKO Jakarta: Pecandu Harus Segera Diobati

Betty Maria Sabtu, 18 Agustus 2018 14:10 WIB
Larasonline.com

Photo: dr. Azhar Jaya, SKM, MARS, Direktur Utama RSKO Jakarta (kiri) dan dr. Gerald Mario Semen, SpKJ, Direktur Medik dan Keperawatan RSKO Jakarta (kanan)

Jakarta.


Seorang pecandu narkoba sebaiknya segera dilakukan rehabilitasi medis. Namun mereka seringnya tidak langsung mendapatkan rehabilitasi medis, karena masih dalam proses hukum ataupun belum mendapatkan putusan yang berkekuatan hukum tetap.


Pecandu yang tertunda menjalani rehabilitasi karena putusan kasusnya belum berkekuatan hukum tetap dialami oleh Trianto alias Bom dan Ari Prasetyo. Mereka diadili dalam berkas terpisah di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.


Meskipun Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah menjatuhkan vonis agar terdakwa direhabilitasi, namun Trianto dan Ari tidak bisa segera direhabilitasi. Sebabnya karena Penuntut Umum Kejari Jakarta Selatan mengajukan banding dan kasasi. Beberapa bulan setelah putusan kasasi diterima Jaksa, baru Trianto dan Ari dipindahkan dari Rutan Cipinang ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta di Cibubur.


Trianto dan Ari Prasetyo mendapat pembelaan dari Lembaga Bantuan Hukum Trisila Jakarta melalui program bantuan hukum gratis. Mereka termasuk orang miskin yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika jenis shabu.


Berita Selengkapnya Silahkan Baca:Akhirnya Terpidana Miskin Penerima Bantuan Hukum Gratis Dapat Rehabilitasi


"Pecandu harus segera direhabilitasi", menjadi pembeda antara perspektif hukum dengan perspektif terapi (medis) dalam penanganan penyalahguna narkoba, dijelaskan dr. Azhar Jaya, SKM, MARS, Direktur Utama RSKO Jakarta (15/08/2018). Menurut perspektif medis, seseorang "pemakai" yang bukan pengedar menurut Undang-undang Narkotika seharusnya segera direhabilitasi.



dr. Azhar menegaskan pengobatan atau rehabilitasi harus segera dilakukan untuk meminimalkan kerusakan pada tubuh pecandu atau pemakai narkoba. Kerusakan disebabkan berbagai gangguan komplikasi-komplikasi akibat pemakaian narkoba.


Kenapa seorang pecandu narkoba semestinya tidak dipenjara? Karena di penjara pecandu tidak mendapatkan apa yang seharusnya. "Lain kalau dia kalau masuk rehabilitasi. Sebenarnya orang ini (pecandu) masih bisa kita selamatkanlah. Memperkecil kerusakan. Kalau pemakai atau pecandu narkoba terlalu lama di penjara bisa makin rusak", jelas dokter lulusan Sarjana Kedokteran dari Universitas Trisakti Jakarta.


Detoksifikasi dan Terapi Community Bagi Pecandu


Pecandu narkoba di RSKO, akan mendapat penanganan medis pertama berupa detoksifikasi selama 2 minggu.


Selama 2 minggu ini detoksifikasi setiap pecandu akan menunjukkan perilaku yang berbeda. Kalau pecandu heroin, morfin sering membentur-benturkan kepala. Sakitnya luar biasa. Keluarga tidak boleh bertemu pasien selama 2 minggu. "Karena kalau keluarga melihat selama 2 minggu ini akan menimbulkan, wah ini anak saya begini-begini, makanya selama 2 minggu kita isolasi atau isolir," masih menurut dr. Azhar yang mendapatkan gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat dan Program Magister Administrasi Rumah Sakit di Universitas Indonesia.



Menurutnya proses detoksifikasi tersebut, tergantung zat nya. Kalau heroin biasanya 2 minggu. Tapi kalau ekstasi yang tidak terlalu lama mungkin pasien narkoba menjalani fase ini lebih cepat tapi tergantung dokter penanggung jawabnya. Setelah 2 minggu maka pasien narkoba akan masuk ke yang namanya fase primary.


Dalam fase primary ini, tim medis memulai pendekatan yang namanya terapi "community". Tim medis melakukan pendekatan pada pasien kasus per kasus atau orang per orang.


Kenapa seseorang menjadi pemakai narkoba. Dilihat mulai dari pekerjaannya, lingkungannya, untuk mencari penyebabnya. Pasien atau pecandu sendiri yang akan mengidentifikasinya. Pasien narkoba akan diajak untuk refleksi, Kok kenapa saya dulu seperti itu (jadi pecandu narkoba).


"Itu kita dampingi, kita ada punya psikolog, kita punya psikiater. Nanti, dia mulai itu nyusun rencana hidupnya seperti apa. Kalau saya nanti keluar misalnya ketemu teman sekolahnya, Oh pemakai, kan itu biasanya sering down atau kumpulannya dia pengguna narkoba. Disini kita rubah mind set-nya. Iya saya dulu pengguna napza tapi sekarang saya mau Anda semua jangan seperti saya. Nah yang kayak begini-begini loh yang mentalnya kita benerin, positive thinking kita benerin ini memang membutuhkan waktu", jelas dr. Azhar lebih lanjut.


Program Asimilasi Bagi Pasien Narkotika, Bedakan RSKO dengan Pusat Rehabilitasi Lain


Bagi pasien narkoba juga dilakukan program asimilasi. dr. Azhar mengatakan program asimilasi ini tidak hanya berlaku untuk pasien narkoba yang berprofesi sebagai "Artis" tetapi untuk semua pasien. Ia mencontohkan jika sebelumnya pasien narkoba adalah seorang businessman dan ingin menghadiri kegiatan seminar bisnis. RSKO Jakarta akan memberikan izin dan pasien napza tersebut boleh keluar mengikuti seminar namun didampingi dan tetap harus kembali lagi ke RSKO Jakarta.


"Yang artis yang nyanyi-nyanyi kita kumpulin, supaya mereka merasa dalam suatu kelompok yang sama. Yang suka melukis, melukis. Yang suka olahraga, olahraga. Pokoknya kita istilahnya membangkitkan spirit (jiwa) mereka sehingga mereka bisa nanti keluar. Jadi sekali lagi itu yang membedakan RSKO dengan tempat rehab yang lain", jelasnya.



Ia menjamin bahwa perawatan rehabilitasi yang dilakukan RSKO Jakarta bagi semua pasien maupun artis yang direhab dilakukan sesuai standar. "Kita semuanya sesuai dengan standar", jelas dr.Azhar.


Pada saat pasien narkoba sudah benar-benar akan segera keluar dari RSKO, misalnya pasien narkotika yang masuk tahap re-entry. Tahapan re-entry bagi pasien narkoba dipersiapan untuk pulang ke rumah. Masuk ke tahap re- entry pun, RSKO Jakarta mengklaim masih mengkawal pasien narkoba. Pada saat tim medis yakin bahwa pasien narkoba bisa melakukan berbagai macam hal secara mandiri maka pasien bisa segera pulang ke rumah.


Menurutnya sepanjang pasien narkoba melakukan aktivitas atau kegiatan positif seperti mengikuti kegiatan seminar, kursus memasak bagi ibu-ibu PKK, itu diperbolehkan oleh RSKO. Hal tersebut didukung untuk persiapan pasien narkoba kembali ke masyarakat.


"Tidak harus artis loh saya bilang. Pokoknya dia nanti apa profesinya di luar, misalnya juru masak, ya dia sudah mulai itu, saya mau lihat ada kursus masak, silakan. Atau dia mau datang ke tempatnya, coba-coba masak di tempat restorannya dulu. Boleh, gak jadi masalah tetapi tetap harus kembali lagi", terangnya.


Namun selama 3 bulan, RSKO akan tetap melakukan evaluasi. Apabila ternyata pasien narkoba memang sudah bisa mandiri, RSKO akan memberikan izin untuk pulang dan pasien narkoba diperbolehkan mengikuti program rawat jalan.


Terapi Yang Benar Akan Cegah Kekambuhan


Pelayanan medis bagi pecandu narkoba oleh RSKO Jakarta, menurut dr. Azhar sudah sesuai standar internasional. Pengobatan tentunya membutuhkan waktu. Untuk proses terapi narkoba membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 3 bulan.



Kalau perawatan pasien narkoba hanya dilakukan 1 minggu, atau pasien narkoba masuk untuk rehabilitasi tetapi tidak dilakukan perawatan apapun, biasanya akan cenderung kambuh lagi.


Kalau rehabilitasi di RSKO dilaksanakan sebenar-benarnya. "Kita ada standar, minimal dia 3 (tiga) bulan disini (di RSKO). Tidak bisa seminggu dirawat inap, kemudian minggu depan sudah keluar", tegasnya.


"Kita terapi bener sehingga setelah dia keluar nanti masih kita awasi dan sebagainya. Sekali lagi inilah yang membedakan kualitas dari pada perawatan, sehingga mereka tidak kembali lagi menggunakan. Itu yang paling penting. Dan mohon maaf saya agak meragukan apa istilahnya rehab-rehab di "tempat lain" yang mungkin hanya mengejar materi," dijelaskannya lebih lanjut.


RSKO Jakarta Sediakan Pengobatan Gratis Bagi Pecandu Miskin


Ia menyampaikan RSKO Jakarta merupakan bagian dari institusi medis negara, dibiayai negara. Ia mengajak pecandu atau pemakai narkotika untuk memilih RSKO Jakarta sebagai tempat rehabilitasi.


"Kalau gak mampu kita bayarin pakai IPWL. Kalau bener-benar orang itu mau sembuh. Tapi kalau orang itu, cuma mau menghindar dari hukuman segala macamnya, di rehab swasta, ya dia akan pakai lagi dan pakai lagi. Jadi kalau ada "manager artis" yang memilih RSKO itu bener sekali karena kita akan men-treat dengan baik," pungkasnya.


dr. Azhar menjelaskan, pelayanan VIP dengan kelas III, yang beda tempat tidurnya. Program penyembuhannya dibaur, disamakan.


RSKO Jakarta Merehab Pasien Napza Dengan Optimal


Tingkat keberhasilan RSKO Jakarta merawat pasien narkoba rata-rata presentasenya 90%. Namun kekambuhan dipengaruhi juga dari berbagai faktor dunia diluar. Kalau ex-pasien narkoba mulai stres lagi, bisa saja dia kembali lagi dan sebagainya.



"Tapi so far, kalau saya lihat tingkat keberhasilan RSKO itu 90 % keatas. Memang ada pasien yang sudah lepas dari tempat kita kemudian dia jatuh lagi. Tapi rata-rata 90% di RSKO dia akan bisa bertahan minimal istilahnya", ditegaskannya.


Ia juga menambahkan, pelayanan RSKO Jakarta mengutamakan pasien. Jika sewaktu-waktu ex-pasien narkoba mulai mengalami gejala yang sama, RSKO Jakarta bisa membantu mengirimkan tenaga medis ke tempat yang bersangkutan. Ia menyebutkan bahwa ex-pasien narkoba tidak dilepas begitu saja.


Pelayanan medis yang dapat diberikan RSKO Jakarta menurutnya berbeda dengan pelayanan di tempat rehab lain. Misalnya RSKO Jakarta menyediakan pengobatan pengguna narkoba dengan kelainan saraf otak atau jiwa, pengguna narkoba dengan gangguan ginjal. Karena ini, dr. Azhar menyatakan RSKO Jakarta memiliki pelayanan yang the best (terbaik).


Perbedaan itu terlihat dari jumlah tenaga medis yang dimiliki. Misalnya di tempat rehab lainnya yang mungkin hanya ada Dokter Umum yang jumlahnya satu atau dua. Sedangkan di RSKO Jakarta memiliki banyak tenaga medis, mulai dari spesialis jiwa adiksi, spesialis jiwa, psikolognya ini, psikolog komunitas, ada semua.



Ia menambahkan jika berbicara fasilitas sebenarnya RSKO Jakarta memenuhi kebutuhan penyembuhan pasien narkotika. "Orang masih berpikir ya itu tadi RSKO mungkin mahal, pokoknya jangan berpikir, kalau nanti anda di luar, mau sembuh atau gak. Sudah gitu saja dulu, kalau mau sembuh. Oke. Bawa saja ke sini (RSKO)," ajaknya.


"Masalah uang itu nomor sekianlah. Yang penting mau sembuh atau gak. Kalau mau sembuh bawa kesini. Jangan di pikir nanti disini dimintai uang, itu belakanganlah", pungkasnya. Namun jika calon pasien narkoba berasal dari keluarga yang tergolong mampu, Ia menyarankan untuk membayar secara pribadi. Karena menurutnya program IPWL adalah program yang pembiayaannya menggunakan uang negara dan khusus untuk orang miskin.


"Kalau misalnya tidak mampu, pokoknya sekali lagi uang itu nomor sekian disini. Bukan nomor satu, nomor dua, nomor tiga, gak, nomor sepuluhan lah kalau menurut saya disini. Karena target kita adalah menyembuhkan orang. Bukan memiskinkan orang", tutupnya.

T#gs Azhar JayaGerald Mario SemenLembaga Bantuan Hukum Trisila JakartaNarkobaRSKO JakartaRehabilitasi Medis
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments