Rabu, 25 Apr 2018
  • Home
  • Berita
  • Umum
  • Akhirnya Terpidana Miskin Penerima Bantuan Hukum Gratis Dapat Rehabilitasi

Akhirnya Terpidana Miskin Penerima Bantuan Hukum Gratis Dapat Rehabilitasi

Betty Maria Sabtu, 31 Maret 2018 14:47 WIB
Larasonline.com

Ari Prasetiyo (berkaos hitam), Trianto (tengah), Surikah (kanan), di RSKO Cibubur.

Jakarta.


Rabu 28 Maret 2018, pukul 16.45 Wib seorang Petugas Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan dengan dikawal seorang petugas kepolisian membawa dua orang terpidana narkotika bernama Ari Prasetiyo alias Kimeng dan Trianto alias Bom tiba di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur.


Ari Prasetiyo alias Kimeng dan Trianto alias Bom dibawa masuk dalam keadaan tangan terborgol. Hari itu mereka dijemput petugas kejaksaan dari Rumah Tahanan Negara (rutan) Cipinang Jakarta Timur dan dibawa ke RSKO Cibubur untuk jalani rehabilitasi medis dan sosial.


Begitu tiba di RSKO Cibubur, Trianto dan Ari yang masih dalam keadaan tangan terborgol langsung dihadapkan kepada petugas pendaftaran pasien baru. Surikah, ibu kandung Trianto yang sudah menunggu di RSKO Cibubur sejak siang hanya duduk dibangku pengunjung merasa terharu dan bahagia melihat anaknya mengisi formulir pendaftaran RSKO Cibubur.


"Ari dan Trianto orang miskin penerima bantuan hukum gratis dari LBH Trisila Jakarta. Pendampingan hukum dimulai ketika LBH Trisila lakukan penyuluhan hukum di Rutan Cipinang. Kemudian dilanjutkan dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, pemeriksaan banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, pemeriksaan tingkat kasasi di Mahkamah Agung, sampai dengan proses pendaftaran menjalani rehabilitasi di RSKO Cibubur", jelas Hasan Lumban Raja, S.H., M.H., Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Trisila Nusantara yang secara khusus mendampingi Trianto dan Ari di RSKO Cibubur.


"Trianto dan Ari akan menjalani rehabilitasi untuk pengobatan ketergantungan narkotika jenis shabu selama sisa masa hukuman masing-masing. Trianto sisa hukumannya empat bulan satu hari, sedangkan Ari sisa hukumannya empat bulan. Rehabilitasi ini untuk laksanakan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan" ditambahkan Hasan.


Menurut informasi dari Sistem Informasi Penanganan Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Ari menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena tertangkap tanggal 26 Januari 2017 membawa satu paket narkotika jenis shabu berat netto 0,1907 gram. Ari membeli shabu untuk dikonsumsi sendiri.


Jaksa menyatakan perbuatan Ari melanggar Pasal 112 ayat (1) UU Narkotika, menuntut agar Ari dihukum enam tahun penjara dan denda delapan ratus juta rupiah subsider tiga bulan kurungan. Namun Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tidak sependapat dengan tuntutan jaksa. Pengadilan menyatakan perbuatan Ari pelanggaran Pasal 127 ayat (1) UU Narkotika dan menghukum Ari satu tahun enam bulan penjara dengan kewajiban mengikuti rehabilitasi medis dan sosial selama setahun di RSKO Cibubur. Putusan ini sependapat dengan pembelaan penasihat hukum. Putusan dibaca tanggal 30 Mei 2017 oleh Agus Widodo selaku Ketua Majelis Hakim , serta Djoko Indiarto dan Feri Agustina Budi Utami selaku anggota majelis.


Trianto, masih menurut SIPP disidangkan berbeda dari Ari, namun bernasib serupa dengan Ari. Putusan PN Jakarta Selatan yang dibacakan tanggal 06 Juni 2017 menghukum Trianto setahun enam bulan penjara karena terbukti sebagai penyalahguna narkotika bagi diri sendiri yang melanggar Pasal 127 ayat (1) Undang-undang Narkotika. Barang bukti saat penangkapan Trianto shabu seberat 0,16 gram. Trianto juga diwajibkan mengikuti rehabilitasi medis dan sosial selama setahun yang diperhitungkan sebagai masa menjalani hukuman. Sebelumnya jaksa menuntut Trianto dihukum 6 tahun penjara dan denda delapan ratus juta rupiah subsider tiga bulan kurungan karena melanggar Pasal 112 ayat (1) UU Narkotika.


Surikah ibu Trianto ditemui di RSKO Cibubur menyatakan sengaja datang ke RSKO Cibubur untuk mendampingi Trianto. Dirinya mengaku menerima telepon dari Rutan Cipinang pukul 11.30 Wib. Ia diminta datang ke RSKO Cibubur siang itu juga karena Trianto akan diserahkan ke RSKO Cibubur untuk rehabilitasi. Kehadiran Surikah dibutuhkan guna menjadi penjamin dan penanggung jawab selama Trianto menjalani rehabilitasi.


Mendengar Trianto akan direhabilitasi Surikah merasa senang, karena dengan mengikuti rehabilitasi Trianto bisa sembuh dari ketergantungan narkotika. Namun Ia juga merasa khawatir karena tidak punya uang apabila rehabilitasi Trianto dikenakan biaya. Bila memang membutuhkan biaya, Surikah akan meminta rehabilitasi Trianto dibatalkan saja. Surikah yang sudah berusia lanjut akhirnya datang ke RSKO Cibubur dengan ditemani Dewi Sri tetangganya.


Tiba di RSKO Cibubur, Surikah bertemu dengan Hasan Lumban Raja, S.H., M.H., dari LBH Trisila. Surikah menyampaikan kekhawatirannya mengenai biaya rehabilitasi. Surikah akhirnya dipertemukan dengan perawat dari RSKO Cibubur untuk mendapat kejelasan mengenai pembiayaan rehabilitasi. Sang perawat menjelaskan rehabilitasi Trianto gratis atau tidak dikenakan biaya karena melaksanakan putusan pengadilan. Biaya rehabilitasi selama maksimal enam bulan dibebankan kepada anggaran negara jelas sang perawat. Mendengar ini Surikah sumringah dan mengucap syukur berkali-kali.


Hasan menyatakan Trianto dan Ari Prasetiyo merupakan penerima bantuan hukum gratis dari Yayasan LBH Trisila Nusantara yang pertama sekali mendapat rehabilitasi narkotika. "Yayasan LBH Trisila Nusantara mulai menjadi pemberi bantuan hukum gratis sejak 2013. Kantor pertama di Medan, Sumatera Utara. Kantor kedua dan ketiga di DKI Jakarta dan Lhokseumawe - Provinsi Aceh. Sejak dari 2013 sampai dengan 2017 Yayasan LBH Trisila Nusantara di tiga provinsi ini menangani ratusan kasus narkotika yang pada umumnya penyalahgunaan bagi diri sendiri. LBH Trisila selalu meminta dalam pembelaan agar terdakwa miskin penyalahguna narkotika bagi diri sendiri atau pecandu mendapat rehabilitasi. Namun selalu tidak dikabulkan Pengadilan. Baru Trianto dan Ari Prasetyo, penerima bantuan hukum gratis yang berhasil mendapat rehabilitasi medis dan sosial dari ketergantungan narkotika" urai Hasan.


"Biasanya kasus seperti ini yang ditangani LBH Trisila oleh pengadilan di Jakarta dikenakan Pasal 112 ayat (1) yang hukumannya minimal empat tahun penjara dan tidak mendapat rehabilitasi. Sedangkan di Medan, Majelis Hakimnya sudah sering menerapkan Pasal 127 ayat (1) UU Narkotika dan menjatuhkan hukuman rata-rata dua tahun tanpa rehabilitasi. Putusan paling ringan di Sumatera Utara dari Pengadilan Negeri Binjai penjara setahun sepuluh bulan namun tanpa rehabilitasi" jelas Hasan.


"Saya mengapresiasi Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang membedakan hukuman bagi pecandu narkotika dengan berikan kesempatan menjalani rehabilitasi medis dan sosial. Apalagi kepada terdakwa penerima bantuan hukum gratis. Putusan kasus Trianto dan Ari Presetiyo ini semoga bisa menjadi rujukan untuk kasus-kasus penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri. Putusan ini sudah diuji melalui upaya hukum banding dan kasasi oleh Penuntut Umum. Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan Mahkamah Agung menguatkannya. Penerima Bantuan Hukum Gratis bisa dapat rehabilitasi. Rehabilitasi bukan hanya untuk artis dan kalangan ekonomi atas" tutup Hasan.

T#gs Hasan Lumban RajaLembaga Bantuan Hukum Trisila JakartaRSKO CibuburYayasan LBH Trisila NusantaraBantuan Hukum GratisPecandu Narkotikarehabilitasi narkotika
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments